Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 203-206

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Ayat ke 203

 

Artinya:

Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman". (7: 203)

 

Sebagaimana yang kita ketahui, al-Quran diturunkan secara bertahap dan memakan waktu 23 Tahun. Oleh karena itu, selama  masa risalah kenabian Nabi Muhammad Saw, ada waktu-waktu tertentu ketika tidak ada sebuah ayat pun yang turun kepada beliau selama beberapa bulan. Hal ini digunakan oleh para penentang Islam dan kaum Musyrikin untuk mencari-cari kelemahan Nabi Muhammad Saw. Ketika selama beberapa saat tidak turun wahyu kepada Rasulullah, mereka langsung bertanya-tanya, " Mengapa ayat-ayat al-Quran itu tidak diturunkan lagi, apakah Tuhan Muhammad telah murka kepada Nabi-Nya? Bahkan, mereka menyuruh Nabi Muhammad untuk membuat sendiri ayat al-Quran.

 

Dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan kaum Musyrikin ini, Allah Swt berfirman kepada Nabi-Nya, "Katakanlah kepada kaum Musyrikin yang mencari-cari alasan itu bahwa engkau tidak menyampaikan suatu ayat pun kecuali yang datang dari Allah. Katakanlah kepada mereka bahwa al-Quran adalah bukti nyata dari Allah dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang beriman."

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Dalam upaya untuk menyebarkan ajaran agama, kita harus terus-menerus memberi nasihat dan teladan kepada masyarakat tanpa kenal lelah. Namun demikian, kadang-kadang diperlukan pula sikap diam dan ketika tiba kondisi yang tepat,barulah kita berbicara. 

2. Kita tidak boleh terpengaruh dan kecil hati akibat berbagai  alasan yang dicari-cari atau permintaan tidak logis yang dijauhkan oleh para penentang Islam dan kaum Musyrikin. Kita harus tetap teguh berjalan di jalan lurus yang kita yakini kebenarannya.

 

Ayat ke 204

 

Artinya:

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (7: 204)

 

Setelah sebelumnya telah dijelaskan bahwa al-Quran adalah petunjuk dan rahmat bagi orang-orang Mukmin, ayat ke 204 ini menyatakan, "Wahai kaum Mukminin, sewaktu Nabi atau orang-orang Mukmin lainnya membaca al-Quran, hendaknya kalian mendengarkan bacaan itu dengan baik dan dan jangan berbicara sendiri-sendiri. Dengarkan dan renungilah ayat-ayat Allah itu, semoga rahmat Allah akan tercurah kepada kalian." Dalam shalat berjamaah, sewaktu Imam shalat membaca surat al-Fatihah dan sebuah surat pendek al-Quran, kita juga harus diam dan secara khusyuk mendengarkan bacaan tersebut.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Al-Quran adalah firman Allah dan petuah samawi. Karena itu, firman suci ini dibacakan, kita harus mendengarkannya dengan sikap diam, khusyu, dan penuh khidmat.

2. Menjaga kehormatan dan kemuliaan al-Quran dapat menyebabkan turunnya rahmat Allah. Sebaliknya, tidak menghormati dan acuh tak acuh terhadap ayat-ayat Ilahi dapat mengakibatkan kemurkaan Allah Swt.

 

Ayat ke 205

 

Artinya:

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (7: 205)

 

Dalam ayat sebelumnya telah dijelaskan tata cara dan sopan santun dalam mambaca al-Quran. Dalam ayat ini, dijelaskan tentang adab dan sopan santun dalam berzikir, berdoa, dan bermunajat kepada Allah. Kita harus menyebut nama Allah dengan sepenuh jiwa, dengan merendahkan diri dan disertai rasa takut. Selain itu, zikir juga tidak boleh dilakukan dengan suara keras sehingga mengganggu ketentraman orang sekitarnya, melainkan dengan suara yang lembut dan pelan yang memanifestasikan kekusyukan dan  ketawadhuan seorang hamba di hadapan Allah Sang Maha Pencipta. Sekalipun ayat ini berbicara kepada Nabi Muhammad Saw, namun jelas sekali bahwa seluruh orang-orang mukmin pengikut beliau termasuk ke dalam cakupan ayat ini. Selain itu, dalam ayat ini juga disebutkan bahwa kaum mukminin harus senantiasa mengingat Allah dalam hati sanubarinya sepanjang pagi dan petang.

 

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Zikir kepada Allah akan bernilai bila manusia mengucapkan nama-nama Allah dengan sepenuh hati dan meresap ke dalam jiwa sanubari, serta teraplikasikan ke dalam seluruh aktifitas hidup manusia.

2. Zikrullah harus dilakukan dengan suara pelan dan bukan dengan berteriak-teriak. Bahkan, zikir harus diiringi dengan ketenangan jiwa, berserah diri, dan lebih baik lagi bila kita sampai menangis meneteskan air mata karena cinta kepada Allah.

3. Zikir juga harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kali kita akan memulai sebuah pekerjaan, kita harus memulainya dengan menyebut nama Allah dan meniatkan pekerjaan itu sebagai ibadah kepada Allah. Selain itu, segala aktifitas harus diakhiri pula dengan nama Allah. Atas berbagai nikmat dan keuntungan yang kita raih, kita harus berterima kasih dan bersyukur kepada Allah. Terhadap segala dosa dan kekhilafan, kita pun harus memohon ampunan kepada Allah.

 

Ayat ke 206

 

Artinya:

Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud. (7: 206)

 

Setelah ayat sebelumnya menyuruh kita agar selalu berzikir kepada Allah, ayat terakhir dari surat al-A'raf ini mengatakan, " Orang-orang yang dekat di sisi Allah itu, baik malaikat, para wali dan orang-orang saleh sedikitpun tidak pernah takabur dan bebangga diri. Mereka selalu bertasbih dengan lisan dan hatinya dan mereka bersujud di hadapan Allah dengan meletakkan dahi mereka di atas tanah. Mereka tidak pernah merasa enggan untuk menyembah Allah, malah selalu rindu untuk bermunajat kepada Allah Swt.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Di hadapan Allah Yang Maha Besar, sikap takabur dan berbangga diri tidak akan ada artinya sama sekali. Sikap rendah hati, merasa kecil, dan menghamba kepada Sang Penguasa jagat raya justru merupakan jalan untuk memuliakan diri manusia dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

2. Kita tidak boleh berbangga diri atas ibadah-ibadah yang kita lakukan. Kita harus mengikut orang-orang yang dekat di sisi Allah, yang senantiasa bersujud, tawadhu, dan khusyu di hadapan-Nya, sehingga mereka terjauhkan dari sikap berbangga diri dan takabur. (IRIB Indonesia)

Tags:


1Comments

Comments

Name
Mail Address
Description