Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 184-187

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Ayat ke 184

 

Artinya:

Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. (7: 184)

 

Telah disampaikan sebelumnya bahwa manusia dalam menghadapi seruan para nabi terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang yang dengan kejujuran dan kebersihan hati menerima nasehat dan ajaran para utusan Allah tersebut. Sedang kelompok kedua adalah orang-orang yang bersikap keras kepala dan ingkar, serta tidak menerima kebenaran. Ayat yang baru kita baca tadi menyebutkan orang-orang kelompok kedua tersebut. Mereka menolak kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw terkena pengaruh jin dan berpenyakit gila.

 

Padahal, kaum Quraisy yang menuduh Nabi Muhammad secara keji itu telah hidup bersama beliau selama 40 tahun dan selama itu pula, mereka mengetahui bahwa sebelum beliau diangkat sebagai nabi, beliau sama sekali tidak pernah menunjukkan perilaku yang tidak wajar. Mereka juga menyaksikan selama 40 tahun bahwa Muhammad Saw adalah seorang yang , jujur, bersih dan adil. Kini, ketika Muhammad Saw menjelaskan kepada mereka ajaran ketuhanan dan kebenaran, mengapa tiba-tiba mereka mengatakan bahwa Muhammad Saw adalah seorang yang berpenyakit gila? Tuduhan gila tidak saja ditimpakan kepada Nabi Muhammad, melainkan kepada para nabi sebelumnya. Hal ini menunjukkan logika kacau orang-orang kafir, yaitu para utusan Allah yang jelas-jelas jujur, bersih, berakhlak mulia, mampu mengontrol  hawa nafsu, dan dermawan, malah disebut sebagai orang gila.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Cara yang diambil oleh orang-orang Kafir dalam melawan kebenaran sama sekali tidak rasional dan tidak argumentatif. Yang dapat mereka lakukan hanyalah melemparkan tuduhan-tuduhan bohong.

2. Menakuti-nakuti dan memberi peringatan atas berbagai perbuatan, yang menilai akhir pekerjaan-pekerjaan itu haruslah jelas dan gamblang dan bukan di balik layar dan sembunyi.

 

Ayat ke 185

 

Artinya:

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu? (7: 185)

 

Pada ayat sebelumnya, Allah menyeru kepada para penentang kebenaran agar mencermati sikap dan kepribadian Nabi Muhammad Saw, supaya mereka dapat melihat bahwa beliau bukan orang gila, melainkan utusan Tuhan yang membawa ajaran kebenaran. Pada ayat ke 185 ini, Allah mengajak para penentang kebenaran itu untuk berfikir mengenai kehebatan penciptaan langit dan bumi, serta ciptaan alam lainnya. Ayat ini mengatakan, "Siapa yang menguasai alam raya ini? Apakah selain Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pencipta, ada Tuhan lain yang menguasai jagat raya ini? Apakah kalian tidak memikirkan kemungkinan bahwa sebentar lagi kalian akan mati, sehingga kalian sibuk mengejar materi dan mengumbar hawa nafsu? Mengapa pula kalian justru meyakini dan membenarkan nasehat batil yang tidak argumentaf dari orang-orang lain dan menolak seruan dan nasehat kebenaran nabi utusan Allah?

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kita harus bisa memandang dan mencermati alam raya ini dengan pemikiran yang dalam dan teliti, karena alam semesta merupakan tanda-tanda kebesaran Allah.

2. Lupa akan kematian merupakan penyebab utama terjadinya penyelewengan, penyimpangan pemikiran, dan kesesatan. Sebaliknya, ingat kepada kematian akan mendorong manusia untuk menerima kebenaran dan mempersiapkan dirinya menghadapi alam akhirat.

 

Ayat ke 186

 

Artinya:

Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (7: 186)

 

Ayat ini merupakan penjelasan yang tegas dari Allah kepada orang-orang Kafir. Sikap keras kepala, ekstrim, dan taklid buta pada kesesatan akan menyebabkan   kemurkaan Allah Swt dan Allah akan membiarkan mereka dalam kondisi sesat tersebut. Mereka akan terjauhkan dari hidayah dan petunjuk Allah Swt. Jauh dari jalan Allah yang lurus akan menyebabkan manusia kebingungan, hidup tanpa arah dan tujuan, serta mengalami tekanan jiwa. Manusia-manusia yang telah tersesat sebagai akibat keingkaran mereka terhadap seruan kebenaran Nabi, hari demi hari akan semakin tersesat dan menderita.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Bersikap ingkar kepada Nabi utusan Allah akan menyebabkan datangnya murka Allah. Nabi utusan Allah adalah sumber petunjuk dan kebenaran. Menjauhi nabi sama saja dengan menjauhkan diri dari cahaya dan petunjuk Allah Swt.

2. Kehidupan kita di dunia ini bagaikan berdiri di tebing jurang, dan setiap saat kita bisa saja tergelincir jatuh. Oleh karena itu kita harus senantiasa berpegang teguh kepada tali Allah agar tidak tergelincir. Bila manusia melepaskan diri dari  tali Allah, Allah melepaskannya ke dalam api neraka.

 

Ayat ke 187

 

Artinya:

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (7: 187)

 

Salah satu pertanyaan yang di ketengahkan oleh orang-orang Kafir kepada Nabi Muhammad Saw dengan tujuan untuk menantang beliau adalah pertanyaan mengenai kapan waktu tibanya Hari Kiamat. Namun tugas Nabi Muhammad hanyalah memberitakan tentang kepastian akan terjadinya Hari Kiamat. Namun, tugas Nabi Muhammad hanyalah memberikan tentang kepastian akan terjadinya Hari Kiamat, sedangkan kapan tepatnya kiamat akan terjadi adalah urusan Allah Swt. SeandainyaRasulullah menjawab bahwa kiamat itu sepuluh ribu tahun lagi, orang-orang Kafir itupun tetap tidak akan bisa membuktikan kebenarannya, karena pada saat itu mereka sudah mati.

 

Al-Quran al-Karim dalam ayat ini menekankan dua poin. Pertama, kiamat akan terjadi dengan tiba-tiba dan manusia tidak mampu memprediksi kapan terjadinya kiamat itu. Kedua, ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan mulai dan berakhirnya alam semesta ini hanya di tangan Allah Swt. Tak seorangpun dari manusia yang dapat mengetahuinya, termasuk para rasul sekalipun.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kita harus senantiasa siap untuk menyosong tibanya Hari Kiamat yang sewaktu-waktu bisa datang. Setelah kiamat, manusia akan dihadirkan di pengadilan Allah. Oleh karena itu, selama masih hidup manusia harus berbuat amal saleh sebanyak-banyaknya sebelum terlambat.

2. Bila kita tidak tahu tentang sesuatu, kita harus mengakuinya secara terus-terang  dan tidak perlu berbohong. Para nabi pun secara terus-terang  menjawab tidak tahu, apabila mereka memang tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepadanya. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description