Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 80-83

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Ayat ke 80

 

Artinya:

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku". Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?"  (6: 80)

 

Sebelumnya telah dibahas bahwa Nabi Ibrahim as pada awalnya menempatkan diri bersama-sama kaum yang menjadi obyek dakwahnya itu. Ia mengatakan apa yang menjadi keyakinan kaumnya bahwa bintang, bulan, dan matahari adalah Tuhannya. Akan tetapi, dengan menyentuh fitrah yang ada pada setiap manusia, Nabi Ibrahim as langsung menunjukkan kekeliruan keyakinan semacam itu dengan cara membuktikan bahwa benda-benda langit itu sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadap nasib manusia dan dengan sendirinya tidak layak menjadi Tuhan.  

 

Kemudian, pada akhirnya Nabi Ibrahim secara terang-terangan mengatakan bahwa Tuhannya ialah Zat yang menciptakan langit dan bumi, dan Zat Pencipta itulah yang diyakini memiliki kekuasaan penuh atas segala nasibnya.  

 

Dalam ayat berikutnya, dijelaskan bahwa sikap kaumnya terhadap ajakan Nabi Ibrahim sangat keras. Mereka bukan hanya enggan menjadi pengikut Nabi Ibrahim, melainkan bahkan mengajak Ibrahim agar mengikuti keyakinan mereka. Menanggapi sikap seperti ini, Ibrahim as berkata, "Bagaimana mungkin aku akan meninggalkan Tuhanku, padahal Dia-lah yang memperkenalkan diri-Nya kepadaku dan telah memberiku petunjuk? Bagaimana mungkin aku meninggalkan Zat yang telah aku kenal sambil mengikuti keyakinan kalian yang betul-betul menyimpang sekaligus sesat?"

 

Ibrahim as juga mengatakan bahwa jika mala petaka terjadi kepadanya, semua itu bisa dipastikan bukanlah berasal dari patung-patung sesembahan kaumnya itu, melainkan karena Allah memang menghendaki. Karena tanpa izin dan kehendak-Nya, tidak akan mungkin sebuah perkara bisa terealisasi.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.  Seorang monotheis atau yang berkeyakinan terhadap Tuhan yang satu, sama sekali tidak akan takut terhadap kesendirian. Seandainya semua orang menjadi kafir, ia tidak akan pernah mau melepaskan keyakinannya.

2.  Salah satu tanda keimanan seseorang adalah tidak takutnya ia kepada apapun atau siapapun selain Allah.  

 

Ayat ke 81

 

Artinya:

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?  (6: 81)

 

Melalui ayat ini terlihat bahwa Nabi Ibrahim telah mengemukakan argumentasi yang sangat bersifat fitri. Ia berkata, "Kalian, wahai orang-orang musyrik, sama sekali tidak merasa takut akan murka Allah baik di dunia maupun di akherat dan kalian merasa sangat aman dengan kondisi kalian seperti ini. Anehnya, kalian berharap bahwa aku akan merasa takut dengan patung-patung sesembahan kalian. Padahal, patung-patung itu tidak lebih dari benda-benda yang kalian buat sendiri, dan kalian tidak memiliki argumentasi apapun, baik akal ataupun fitrah, yang bisa membenarkan perilaku syirik kalian itu".

 

Nabi Ibrahim as melanjutkan, "Logika justru mengharuskan aku untuk takut kepada Tuhanku, tidak kepada patung-patung itu, hingga Hari Kiamat kelak, kita semua akan lebih dekat pada keamanan. Yang kalian lakukan ini sangatlah ironis, karena kalian telah meninggalkan satu perkara yang betul-betul pasti sambil mencoba mengikuti hal-hal yang masih serba meragukan"

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.  Pemikiran dan keyakinan agama haruslah berlandaskan kepada logika dan argumen, bukannya berlandaskan kepada persangkaan, ilusi, mimpi, ataupun khayalan.

2.  Dalam berdebat dengan para penentang agama, cara efektif yang seharusnya dipakai adalah metode tanya jawab, untuk kemudian kita ajukan solusinya. Ayat tadi memberikan contoh, ketika disebutkan bahwa Nabi Ibrahim bertanya, "Jika kalian memang mengetahui, katakanlah, siapa di antara kita, dua kelompok yang berbeda ini, yang  berhak memperoleh keamanan di  Hari  Kiamat?"

 

Ayat ke 82

 

Artinya:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.  (6: 82)

 

Pada akhir perdebatan antara Nabi Ibrahim dan kaumnya, Ibrahim as mengajukan pertanyaan kepada kaumnya dan Quran memberikan jawabannya. Di  Hari  Kiamat hanyalah kaum Mukminin yang saleh, kuat iman, dan tidak melakukan kesyirikan, serta tidak berbuat kezaliman yang akan memperoleh keselamatan di Hari Kiamat.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.  Menjaga iman lebih penting dari iman itu sendiri. Keteguhan dan keistiqamahan di jalan yang benar adalah faktor penting untuk memperkuat dan mempertahankan iman.

2.  Keamanan yang sejati ada dalam lindungan iman yang sejati pula. Keamanan sejati itu adalah keamanan pada hari ketika tidak ada seorang pun yang mendapatkan keamanan.

 

Ayat ke 83

 

Artinya:

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.  (6: 83)

 

Di bagian akhir perdebatan Nabi Ibrahim dan kaumnya, Allah berfirman bahwa "Inilah argumen yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk berdebat dengan kaumnya. Dalil atau argumen yang berdasarkan wahyu dan logika itu, dibawa oleh Rasul Tuhan kepada umatnya agar dipahami oleh mereka. Ibrahim telah Kami angkat sebagai nabi dan rasul, atas dasar hikmah. Umat manusia memerlukan petunjuk dan teladan dan orang terbaik di dalam masyarakatlah yang harus dipilih untuk urusan ini. Orang-orang yang tidak punya kebijaksanaan dan kemuliaan tidak akan mencapai derajat kenabian."

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.  Peningkatan derajat dan kedudukan dalam sistem sosial haruslah berdasarkan ilmu dan hikmah, bukan karena kekuatan dan kekayaan.  

2.  Metode dakwah para nabi adalah berdasarkan pada penjelasan dan argumentasi, bukan pada taklid dan pemaksaan. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description