Pendidikan Anak dalam Pandangan Rasulullah Saw

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Dalam kehidupan rumah tangga, salah satu masalah terpenting yang harus diperhatikan secara seksama oleh kedua orangtua adalah masalah pendidikan dan pengajaran ilmu pengetahuan kepada anak-anak. Ayah dan ibu harus membentuk kepribadian dan watak anak-anaknya yang baik dan soleh dan juga menghormatinya. Salah satu bentuk bantuan yang bisa diberikan orangtua untuk mendorong anak-anak mereka menjadi anak-anak yang baik adalah, dengan mempersiapkan lingkungan yang sehat dan mendukung, dimana orangtua menyediakan lahan untuk anak-anak mereka sehingga bisa berkembang mencapai kesempurnaannya.

 

Haruslah disadari bahwa setiap perilaku dan perkataan kedua orangtua, sekecil apapun itu dapat berpengaruh terhadap anak-anak, dan sekarang ini telah terbukti bahwa seluruh ucapan dan tindakan setiap manusia -kepada bayi sekalipun- dapat berpengaruh bahkan pada segala unsur fisik yang berkenaan dengannya.

 

Kedudukan anak

 

Rasulullah Saw dalam menjelaskan kedudukan anak-anak umatnya di dalam lubuk penciptaan bersabda, "Setiap cermin bayi umatku lebih aku cintai ketimbang apa yang dipancarkan matahari kepada mereka".

 

Di dalam dari setiap manusia tersembunyi benih-benih kebahagiaan, yang jika dipupuk dan dipelihara dengan benar, masing-masing dari mereka akan menjadi pohon kebaikan yang nantinya akan memiliki gerak yang sesuai bagi kesempurnaan manusia. Salah satu dari benih-benih itu adalah memiliki anak yang saleh. Rasulullah Saw bersabda, "Salah satu kebahagiaan manusia adalah memiliki sahabat-sahabat yang saleh dan anak yang baik".

 

Tidak sedikit hadis-hadis dan riwayat yang senada dengan ini, riwayat-riwayat yang memusatkan perhatiannya kepada lingkungan keluarga, yaitu lingkungan keluarga yang dipenuhi oleh nilai-nilai suci Ilahi dan maknawi. Surga ditumbuhi bunga-bunga yang semerbak harumnya, dan anak yang soleh adalah salah satu dari bunga-bunga itu, ia adalah bunga yang mekar di dalam lingkungan serupa surga yang diciptakan oleh ayah dan ibunya.

 

Anak -terlepas dari adat istiadat dan kebiasaan yang diserapnya dari masyarakat- adalah cerminan dari budaya, moral, keimanan dan nilai-nilai yang dianut dan terpatri di dalam wujud kedua orangtua dan keluarga. Hal tersebut dikarenakan ayah dan ibu lah yang menumbuhkan benih-benih kesempurnaan wujudnya pada wujud anak-anak mereka. Anak-anak tidak akan tumbuh seperti yang kita inginkan, akan tetapi mereka tumbuh seperti adanya kita sekarang.Sehubungan dengan hal ini Rasulullah Saw bersabda, "Allah Swt menganugerahkan anak kepada manusia dalam kondisi fitrah yang suci, jiwa yang sehat dan berbahagia, dan kedua orangtualah yang menjadikannya celaka dan tersesat layaknya diri mereka sendiri".

 

Rasulullah Saw memerintahkan kedua orangtua untuk berusaha mendidik anak-anak mereka dan bersabda, "Hormatilah anak-anak kalian dan hiasilah mereka dengan etika yang baik".

 

Salah satu bentuk penting penghormatan kepada anak-anak dan pendidikan mereka adalah anjuran dan dorongan kepada mereka untuk melakukan shalat dan menjalin hubungan dengan Tuhan. Bentuk yang lain dari etika penting dalam mendidik anak adalah memilih nama yang baik bagi mereka. Nama-nama yang dipakai oleh anggota-anggota keluarga menunjukkan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga tersebut, bahkan kita dapat memahami semangat dan kecenderungan yang dimiliki oleh bangsa-bangsa dari nama-nama yang mereka gunakan. Betapa banyak anak-anak yang dikarenakan kesalahan dari orangtua mereka dalam memilih nama dan pendidikan etika yang tidak benar mengalami krisis kepribadian di tengah masyarakat. Nama yang digunakan manusia memiliki peran yang menentukan dalam pendidikan dan garis hidupnya. Rasulullah Saw kepada Ali bin Abi Thalib as bersabda, "Wahai Ali! Hak seorang ayah adalah memberikan nama yang baik kepada anaknya, mendidiknya dengan baik dan menempatkannya pada posisi yang layak di tengah masyarakat."

 

Pendidikan sebelum pengajaran

 

Tujuan terpenting agama suci Islam adalah pendidikan dan perbaikan individu-individu masyarakat manusia sehingga masyarakat manusia menjadi bersih dari kotoran-kotoran dan pencemaran-pencemaran ruh dan jiwa. Jelas, bahwa tanpa pendidikan dan perbaikan, pengajaran ilmu pengetahuan dan hikmah kepada manusia bukan saja tidak akan menciptakan sebuah masyarakat ideal (madinah fadhilah), tetapi justru akan menjadi perusak masyarakat itu sendiri. Berkenaan dengan hal ini Imam Khomeini berkata:

 

"Yang menjadi ancaman bagi dunia bukanlah senjata-senjata, bayonet, roket-roket atau yang sejenisnya.Apa yang sedang menjerumuskan planet ini ke jurang dekadensi adalah penyimpangan akhlak.Jika tidak ada penyimpangan-penyimpangan akhlak, tidak ada satupun dari senjata-senjata ini yang membahayakan manusia. Apa yang sedang menarik manusia dan negara-negara ke jurang kehancuran dan dekadensi adalah kemerosotan-kemerosotan yang ada pada para pemimpin negara-negara yang sedang berkuasa atas pemerintahan-pemerintahan ini, mereka sedang menciptakan kemerosotan akhlak, mereka sedang menggiring seluruh umat manusia ke arah jurang kemerosotan dan dekadensi."

 

Rasulullah Saw dengan meletakkan program penyucian, perbaikan dan pendidikan manusia dalam agenda kerjanya, dalam waktu yang tidak lama dan dengan tidak dimilikinya fasilitas-fasilitas pendidikan dan pengajaran seperti yang kita miliki di zaman ini, mampu menyumbangkan pribadi-pribadi teladan seperti Ali as dan Fathimah kepada masyarakat manusia.Sehubungan dengan ini Ali as berkata:

 

"Sesungguhnya kalian tahu kedudukan dan posisiku di sisi Rasulullah Saw.Aku dibesarkan beliau di pangkuannya, dan meletakkan aku di dada mulianya sehingga tercium olehku bau harum tubuhnya, beliau menyuapi aku makanan dan beliau tidak pernah sekalipun mendapati aku berbohong dalam perkataan, dan salah dalam perbuatan.

 

Aku selalu bersama Rasulullah Saw layaknya anak di sisi ibunya, setiap hari beliau menancapkan panji-panji kemuliaan akhlak di dalam wujudku dan memerintahkan aku supaya mengikutinya."

 

Dengan menghabiskan anggaran yang luar biasa besar untuk sistem pendidikan, masyarakat manusia sampai saat ini masih belum mampu menyumbangkan kepada dunia, pribadi-pribadi seperti Imam Ali as dan para maksum (manusia suci) lain yang terdidik di sekolah Rasulullah Saw yang menjamin kesempurnaan jiwa manusia.

 

Akan tetapi jangan dibayangkan bahwa tercapainya kesempurnaan bagi selain manusia maksum adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena setiap manusia sesuai dengan kadar usaha dan kerja kerasnya dengan cara mengais sedikit demi sedikit ilmu dari sumber yang menjamin kesempurnaannya, dapat mencapai kesempurnaan yang sesuai dengan diri dan usahanya secara baik. Tidak diragukan bahwa orang-orang besar adalah orang-orang yang dididik di dalam keluarga-keluarga yang di sana tercium bau harum tarbiah Rasulullah Saw, tarbiah yang menjamin bagi tercapainya kesempurnaan manusia.

 

Kasih sayang kepada anak-anak

 

Selama masa hidupnya, anak-anak kita harus merasakan rasa kasih sayang semaksimal mungkin, karena Raulullah Saw dengan teladan dan tindakannya serta dengan petunjuk-petunjuknya yang terang memerintahkan umat beliau untuk melakukannya:

 

Rasulullah Saw di pagi hari mengelus kepala anak-anaknya dengan tangannya yang mulia. Dinukil dalam sebuah riwayat, "Suatu hari Rasulullah Saw dengan cepat menyelesaikan shalat jamaahnya dan orang-orang yang hadir pada waktu itu bertanya alasannya.Beliau bersabda,"Apakah kamu tidak mendengar suara tangis anak kecil?" Betapa Nabi Muhammad Saw dengan kedudukannya yang tinggi menghadapi setiap masalah dengan ketelitian.

 

Dan dalam riwayat yang lain disebutkan, "Allah Swt akan mencatat setiap ciuman ayah dan ibu terhadap anaknya sebagai kebaikan dan barangsiapa yang menggembirakan anaknya Allah Swt kelak di Hari Kiamat akan memakaikan untuknya baju yang karena cahaya baju itu, muka-muka penduduk surga akan bersinar."

 

Di antara perkara penting yang patut diperhatikan dalam dalam menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada anak-anak, ialah menepati janji yang diberikan oleh kedua orangtua kepada anak-anaknya. Rasulullah Saw berkenaan dengan hal ini bersabda, "Cintailah anak-anak, berkasih sayanglah dengan mereka dan setiap kali kalian berjanji kepada mereka, tepatilah janji kalian itu.Karena anak-anak beranggapan bahwa mereka menerima rezeki dari tangan kalian".

 

Masalah lain yang menyulitkan bagi keluarga adalah tidak sejalannya orangtua dalam berprilaku terhadap anak-anak dan kurangnya perhatian kepada tuntutan seusia mereka, Rasulullah Saw bersabda, "barangsiapa yang memiliki anak, berperilakulah kepadanya layaknya seorang anak".

 

Anak-anak yang bermasyarakat

 

Dalam agama Islam sebagai madrasah yang menjamin kesempurnaan manusia, cara hidup seperti biarawan (menyendiri) dan anti sosial dilarang untuk dilakukan. Rasulullah Saw bersabda, "Manusia adalah makhluk sosial dan agama suci Islam menekankan dan mendorong manusia untuk bermasyarakat."

 

Salah satu tugas terpenting orangtua dan juga lembaga kebudayaan dan pendidikan adalah meletakkan pondasi akhlak dan pendidikan Islam terhadap masyarakat dalam berperilaku dengan sesama. Menurut Islam titik awal interaksi ini tidak lain adalah mengangkat dan menebar nilai-nilai perdamaian dan kerukunan, dan ini terlihat dari perilaku saling mengucapkan salam kepada sesama. Guna membangun pondasi nilai-nilai agung ini dalam tubuh masyarakat, Rasulullah Saw bersabda, "Selama aku masih hidup aku tidak akan meninggalkan untuk selalu memberikan salam kepada anak-anak sehingga itu menjadi karakter dalam masyarakat dalam bentuk sunah (tradisi)".

 

Jika kita lihat perkara ini dari sudut pandang yang lain, kita akan saksikan bahwa Rasulullah Saw dengan amal perbuatannya sedang mengajarkan kepada umat manusia dan mengatakan kepada mereka, "Wahai sekalian manusia! Wahai masyarakat manusia! Jika kalian ingin memiliki sebuah masyarakat yang dipenuhi dengan kedamaian, keselamatan dan kerukunan, mulailah dari diri kalian sendiri, hiasilah diri kalian dengan akhlak yang indah dan amalkan semua perkataan kalian sehingga anak-anak kalian akan terdidik dengan baik." (IRIB Indonesia / Taqrib / SL)

 

Disarikan dari buku Peyombar A'zam Syam e Jam e Afarinesh.

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description